Gurindam 12: Saat Etika Merasuk ke Dalam Sastra

24 Aug 2026
Gurindam 12: Saat Etika Merasuk ke Dalam Sastra
Sastra sering dipahami sebagai karya yang menghadirkan keindahan bahasa, imajinasi, dan pengalaman batin manusia. Namun, dalam khazanah Melayu, sastra tidak hanya bertugas menghibur. Sastra juga menjadi sarana untuk menyampaikan nasihat, membentuk watak, dan mengarahkan manusia menuju kehidupan yang baik. Salah satu karya yang memperlihatkan hubungan erat antara keindahan bahasa dan tuntunan moral adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang berisi petunjuk dan nasihat mengenai agama, kepemimpinan, keluarga, budi pekerti, serta kehidupan bermasyarakat.
Mengenal Gurindam Dua Belas

Gurindam merupakan bentuk puisi lama Melayu yang umumnya terdiri atas dua baris dalam satu bait. Baris pertama biasanya berisi sebab, syarat, atau persoalan, sedangkan baris kedua memuat akibat, jawaban, atau penjelasan. Hubungan sebab-akibat itu membuat gurindam memiliki daya penalaran yang kuat.

Dalam Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji, pola tersebut digunakan untuk menyampaikan hubungan antara perilaku dan konsekuensinya. Salah satu bait yang paling dikenal berbunyi:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Bait ini menunjukkan bahwa agama ditempatkan sebagai dasar identitas dan kehidupan manusia. Pesan tersebut tidak hadir dalam uraian panjang, tetapi dalam dua baris yang padat, ritmis, dan mudah dihafalkan.

Kepadatan bentuk menjadi salah satu kekuatan Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji tidak sekadar memberi perintah moral, tetapi mengajak pembaca memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak. Manusia dituntut untuk menyadari hubungan antara pilihan, kebiasaan, dan pembentukan karakter.


Dua Belas Pasal, Dua Belas Ruang Etika

Kedua belas pasal dalam karya ini mencakup berbagai bidang kehidupan. Isinya bergerak dari hubungan manusia dengan Tuhan hingga hubungan manusia dengan sesama.

Secara garis besar, pokok ajaran dalam setiap pasal dapat dipahami sebagai berikut:


Pasal Pokok persoalan

Pasal 1 Pentingnya agama sebagai dasar kehidupan

Pasal 2 Pelaksanaan ajaran dan kewajiban agama

Pasal 3 Pengendalian anggota tubuh dan perilaku

Pasal 4 Menjaga hati, pikiran, dan perasaan

Pasal 5 Pentingnya mengenal diri serta mengendalikan hawa nafsu

Pasal 6 Nasihat dalam memilih pasangan dan lingkungan pergaulan

Pasal 7 Kewajiban orang tua dan tanggung jawab dalam keluarga

Pasal 8 Peran manusia dalam kehidupan sosial

Pasal 9 Kewajiban raja atau pemimpin

Pasal 10 Hubungan anak dengan orang tua

Pasal 11 Budi pekerti sebagai dasar kemuliaan manusia

Pasal 12 Etika sosial, ilmu, dan kesadaran akan kehidupan serta kematian


Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa etika dalam Gurindam Dua Belas bersifat menyeluruh. Etika bukan hanya perkara hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mencakup cara berbicara, memilih teman, menghormati orang tua, menjalankan tanggung jawab, serta menggunakan kekuasaan.


Gurindam Dua Belas membuktikan bahwa sastra dapat menjadi ruang pendidikan moral tanpa kehilangan keindahannya. Melalui dua belas pasal, Raja Ali Haji mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, cara mengendalikan diri, tanggung jawab dalam keluarga, etika kepemimpinan, serta pentingnya budi pekerti dan ilmu.


Etika dalam karya ini tidak hadir sebagai aturan yang kering. Ia merasuk melalui irama, rima, perbandingan, dan kepadatan makna. Karena itu, Gurindam Dua Belas bukan hanya peninggalan sastra Melayu, melainkan juga cermin tentang bagaimana manusia membentuk dirinya.

Bagikan Artikel